Beban Yang Subyektif !!!
Seekor kebo (kerbau) jalannya tertatih-tatih, tak tahu arah. Orang Sunda bilang rarampeolan. Kebo itu ternyata menyandang beban berat dipunggungnya,yaitu gembala dan serulingnya.
Sang gembala dengan bobot lebih dari setengah kuintal, jelas merupakan “beban” yang amat berpengaruh terhadap konsisi fisik kebo. Serulingnya yang mendayu-dayu, ternyata tak sedap didengarnya. Membuat perasaan sang kebo menjadi ciut, pesimis, frustasi, nyali mengecil dan hampir putus asa.
Bunyi seruling memang indah, namun tidak memberikan semangat, bahkan mengerdilkan ambisi dan obsesi. Sehingga ada beban ganda yang disandang sang kebo, dua-duanya berat dan menekan, namun sang kebo tidak punya pilihan.
*** Read more…
Batas Akhir
Saat malaikat maut menjemput ….
Tampak senyum ceria yang tulus …
Perasaan puas terukir di wajah itu …
Tuhan akan dijumpainya …
Karena memang berhak ituk itu …
Dia telah tuntas menjalankan tugasNya …. Read more…
Percaya Diri dan Membawa Diri
Percaya diri artinya memiliki keyakinan akan adanya diri yang mempunyai hak mendapat posisi, serta beraktivitas tanpa ada sesuatu yang menghambat. Membawa diri berarti kemampuan beradaptasi dengan lingkungan tanpa melepaskan karakter diri dan eksistensi diri, sebagai pribadi yang mempunyai hak dan kewajiban yang sama dengan pribadi lain. (Atep Afia) – Bandung, 13 Maret 1987 Read more…
Tolonglah Diri Sendiri
Pada hakekatnya manudia dihadirkan ke bumi ini sendiri. Berjuang sendiri, mati sendiri dan dikubur sendiri. Seorang manusia harus bertanggung-jawab terhadap aktivitasnya sendiri.
Andil orang lain memang besar dalam kehidupan kita. Contohnya sikap dan perlakuan seorang ibu terhadap anak-anaknya. Manusia terus mengalami pertumbuhan dan perkembangan, hingga tiba pada fase yang dinamakan “menua”. Secara fisik, pada fase ini titik maksimal pertumbuhan manusia telah tercapai. Read more…
Senyum Ketegaran
Perhatikan langkah itu, mantap dan pasti ….
Wajah tengadah lurus ke depan ….
Mata berbinar pertanda gairah hidup berkobar ….
Tirai dunia seakan disingkapnya ….
Tak ada cemas atau resah …
Tak ada kepura-puraan …
Tak ada keraguan ……
Cara Pandang yang Keliru
Bagaimana sikap mental Anda terhadap situasi dan kondisi lingkungan Anda ? Normal, positif atau negatif-kah? Apakah Anda tergolong tipe yang menyenangi manusia, menyenangi pergaulan (sosialisasi)?
Sikap Anda terutama ditentukan oleh cara berpikir Anda, cara Anda me-manage pikiran Anda, bagaimana teknik Anda mem-POAC kegiatan pikiran Anda (POAC : planing, organizing, actuating, controling). Wujud Anda saat ini adalah distribusi dari berbagai kegiatan pikiran Anda. Akumulasi pikiran Anda tersebut menentukan posisi Anda saat ini. Read more…
Waspada
Selama ini……
Aku terlunta-lunta dalam ketidakpastian…
Aku terjerembab dalam dusta dan kesia-siaan..
Anganku yang kosong menerawang…
Kakiku entah melangkah ke mana…
Mulutku tak tahu bicara apa … Read more…
Senangilah Manusia
“Dunia ini panggung sandiwara, ceritanya mudah berubah…”, itulah sepotong lirik lagu yang pernah dibawakan rocker Ahmad Albar. Memang demikian, dunia bagai panggung sandiwara, atau seperti cerita film. Lalu siapa peran utama dalam lakon tersebut. Menurut diri saya, tentu jawabannya, “sayalah peran utamanya”. Dan menurut anda, tentu anda sendiri pemeran utamanya. Kemudian siapa sutradaranya, lalu produsernya ? Siapa yang mengatur seluruh peran anda dan acting anda tersebut ? Read more…
Sang Jantan yang Lembut
Sosok yang kokoh, dengan langkah kaki yang mantap, memancarkan ketegaran. Dia tengah menuju sasaran, yaitu medan kehidupan yang penuh dengan ranjau-ranjau dan jebakan-jebakan. Yang akan memangsa, yang akan memboyong siapa saja ke arah kesengsaraan, menuju kemelaratan. Yah, itulah konsekuensi kehidupan yang memang keras. Siapa lalai, siapa terjebak, siapa yang tidak menggunakan otak, pastilah melarat. Read more…
Hello world!
Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!